Sign by Ryyan ruwet -

Bagi kalian para followers selamat datang dan selamat menikmati artikel dalam blog ini dan silahkan bebas mengCopy " GGRRRRAAAAAAATTTIIIISSSS "

Not Indonesian, Please translate here :

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : ryyanruwetwetruwet & ther - wher
Tampilkan NavBar

WowWee, 'Titisan' Wall-E di Dunia Nyata

Masih ingat dengan film animasi robot Wall-E? Robot pemungut sampah yang imut dan menggemaskan itu akhirnya coba direalisasikan menjadi robot beneran di dunia nyata yang bisa mengambil dan membawa barang-barang. 

Hanya saja, robot bernama WowWee ini tidak dibuat untuk memungut sampah, melainkan ditujukan untuk mengambil mainan ataupun peralatan lain yang berserakan di lantai.

WowWee memiliki enam roda yang bisa membuatnya meluncur dan meraih barang dengan menggunakan tangannya. Setelah memegang barang, ia kemudian memindahkannya ke bagian belakang untuk dibawa. Bentuk robot ini bisa dibilang perpaduan antara robot Wall-E dengan robot Big Trak yang populer pada tahun 1980-an.

Robot mungil ini akan mengambil barang yang terdeteksi di lantai dengan modus otonom atau pengendalian dengan remote. Dengan gesit, ia mampu melintasi sebagian besar daerah tanpa ada halangan dan menampilkan multi-directional mobilitas.

Tak hanya itu, WowWee juga dikatakan bisa melontarkan kalimat lucu dan beberapa efek suara sementara sensor yang terbenam di tangannya akan mendeteksi benda-benda di depannya.

Walau robot ini tidak bisa mengangkat barang berat, namun ia bisa berbicara atau mengoceh seperti, "mari kita mulai bekerja" atau "satu langkah lebih dekat
menuju dunia bersih
".

Seperti dikutip detikINET dari Tech Pinger, Selasa (3/8/2010), Roboscooper WowWee yang dibanderol dengan harga US$ 70 ini memerlukan enam buah baterai AAA untuk beroperasi.

Bill Gates Percaya Pada Khasiat Sunat

 

Mantan CEO Microsoft Bill Gates memberikan sambutan dalam Konferensi Internasional AIDS ke 18 DI Wina, Austria. Pemilik Bill & Melinda Gates Foundation ini mengaku awalnya tak meyakini bahwa sunat alias khitan atau sirkumsisi pada laki-laki akan banyak mempengaruhi penurunan angka penularan AIDS.

"Saya tidak yakin semua laki-laki mau disirkumsisi. Mereka sudah ketakutan dahulu," kata Gates.

Namun, kemudian lewat yayasannya yang telah melakukan ratusan ribu sirkumsisi di Afrika, ia benar-benar percaya bahwa sirkumsisi banyak memberi manfaat.

Masyarakat Afrika, sebut Gates, juga semakin sadar akan pencegahan awal AIDS dengan sirkumsisi meskipun menimbulkan kengerian sebelumnya.

Selain soal sunat, Gates juga membicarakan soal penyaluran dana dalam kegiatan sosial untuk AIDS. Ia menegaskan bahwa yang patut dicatat dalam penggalangan dana untuk AIDS adalah penyalurannya.

Selama ini ratusan juta dollar telah terhabiskan untuk pencegahan dan perawatan AIDS, namun masih dirasa kurang diseminasinya. "Kami tidak mungkin terus meminta donor dalam situasi perekonomian yang tidak mendukung saat ini, kecuali dana tersebut terbukti tersalurkan dengan baik," tegas Gates.

BlackBerry Torch, Senjata Baru RIM Menyusul Android

Jakarta - Research In Motion (RIM) telah memperkenalkan BlackBerry Torch. Gadget dengan layar sentuh plus keyboard Qwerty geser ini diharapkan bisa membuat BlackBerry menyusul Android.

Torch diumumkan dalam sebuah acara di New York. Dengan menggandeng operator AT&T, operator ekslusif iPhone di Amerika Serikat, mau tidak mau Torch akan dibanding-bandingkan dengan iPhone.
Namun apakah Torch memang bakal menyaingi iPhone? Seperti dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (4/8/2010), para analis beranggapan Torch belum akan jadi perangkat yang mengalahkan iPhone.

"RIM sedang menyusul. (Torch) adalah upgrade bagi pengguna BlackBerry, tapi selain dari itu tak ada yang benar-benar menarik dari sini," ujar Michael Gartenberg dari Altimeter.

Ross Rubin, analis dari NPD, juga tak melihat 'lompatan besar' dari Torch. Tapi ia yakin Torch akan membantu RIM bersaing dengan iPHone dan berbagai ponsel Android yang makin ramai di pasaran.

"Ini bisa membuatnya layak bersaing lagi -- jika mereka bisa melakukannya dengan efisiensi dan stabilitas yang sudah diakui dari RIM, jelas akan jadi sesuatu yang positif," kata Rubin.

BlackBerry Torch menggunakan layar sentuh ala iPhone dan banyak ponsel Android. Selain itu, terdapat sebuah keyboard Qwerty geser yang tentunya sudah akrab di banyak pengguna BlackBerry.

Patung Perawan Maria Sindir Fashionista


Jakarta - Jika Ada film berjudul 'The Devil Wears Prada', kini giliran 'Virgin Mary Wears Louis Vuitton' yang menjadi sorotan publik fashion.

Pada sebuah pameran seni sakral yang diadakan setiap dua tahun sekali di Italia, terlihat sebuah patung perawan Maria mengenakan busana Louis Vuitton. Dari kerudung hingga busana yang dikenakan terdapat logo brand ekslusif 'LV' dengan warna emas.

Patung 'Virgin Mary' ini merupakan karya dari  Francesco De Molfetta, seorang  seniman asal Italia. Menurut Francesco seperti yang dilansir dari Luxuo, "Ini merupakan sindiran untuk masyarakat yang hidupnya memuja penampilan dengan menggunakan barang bermerek untuk kebahagiaan yang singkat."

"Ini merupakan cara baru untuk menafsirkan 'sacred art', sekaligus sebagai cara untuk membuat pengunjung terperangah" tambah Francesco.(eya/fer)

3-D Intelligent Robots Simulasi Bersaing di Robocup 2010

A University of Miami (UM) peneliti akan mempresentasikan karyanya pada Robotika dan Kecerdasan Buatan (AI) di RoboCup 14 tahunan Kejuaraan Dunia dan Simposium, sebuah acara robot internasional yang bertujuan untuk memajukan AI dan robot cerdas penelitian. Ubbo Visser, riset profesor ilmu komputer di UM College of Arts and Sciences dan pemimpin tim untuk RoboCanes tim robotika UM, akan menjelaskan arsitektur sistem multiagen (MAS) dan mendiskusikan teknik menangkap gerak untuk animasi grafis. Visser akan berbagi temuan dalam makalah berjudul: "TopLeague & Bundesliga Manajer: New game online generasi sepak bola" dan berpartisipasi dalam liga sepak bola simulasi 3D dengan RoboCanes, dirancang oleh kelompok AI & Permainan di UM.Acara ini akan berlangsung di Singapura, 19-25 Juni. "Ide menggunakan sepakbola sebagai tempat ujian bagi robot adalah untuk belajar tentang kebutuhan agen, atau robot yang bertindak secara real-time, dinamis, dan lingkungan yang bermusuhan," kata Visser. "To understand what it takes for a robot to integrate knowledge and put information into context so that it can make decisions in a split second: that is one of the hardest problems in AI and robotics to solve right now." "Untuk memahami apa yang diperlukan untuk robot untuk mengintegrasikan pengetahuan dan memasukkan informasi ke dalam konteks sehingga dapat membuat keputusan dalam hitungan detik: yang merupakan salah satu masalah yang paling sulit dalam AI dan robotika untuk memecahkan sekarang."
RoboCup (awalnya bernama Piala Dunia Robot Soccer Games dan Pertemuan) dimulai pada tahun 1997, dan selama bertahun-tahun telah menjadi kompetisi robotika lazim di dunia. The primary focus of the event is soccer games; it involves more than 3,000 researchers, about 450 teams and participants from over 40 countries. Fokus utama acara ini adalah permainan sepak bola, ia melibatkan lebih dari 3.000 peneliti, sekitar 450 tim dan peserta dari lebih 40 negara.
For the event, the contestants develop autonomous robots and software agents and take part in games, simulations, conferences, and educational programs, but RoboCup is not just about playing games, explains Visser, who is one of the Trustees of the RoboCup Federation. Untuk acara tersebut, para kontestan mengembangkan robot otonom dan agen perangkat lunak dan mengambil bagian dalam permainan, simulasi, konferensi, dan program pendidikan, tetapi RoboCup tidak hanya bermain game, menjelaskan Visser, yang merupakan salah satu Pembina Federasi RoboCup.
"There is a noble goal behind this work, namely to understand what's going on if we send robots in the field and let them do the work of humans," says Visser. "Ada tujuan mulia di balik pekerjaan ini, yaitu untuk memahami apa yang terjadi jika kita mengirimkan robot di lapangan dan membiarkan mereka melakukan pekerjaan manusia," kata Visser. "Doing this work gives one a lot of respect for the human mind; people can have this huge amount of experience of what to do in unforeseen situations and that is exactly what we are trying to solve with robots: what techniques are successful in these sorts of situations is what we are touching on." "Melakukan pekerjaan ini memberikan satu banyak menghormati pikiran manusia, orang dapat memiliki jumlah besar ini pengalaman apa yang harus dilakukan dalam situasi yang tak terduga dan itulah yang kita berusaha untuk memecahkan dengan robot: teknik apa yang berhasil dalam jenis ini situasi adalah apa yang kita menyentuh. " University of Miami tim RoboCanes adalah salah satu dari hanya dua tim AS berpartisipasi dalam liga sepak bola simulasi 3D. Like the real World Cup in soccer, in RoboCup a team has to qualify to participate. Seperti Piala Dunia nyata dalam sepak bola, di RoboCup tim harus memenuhi syarat untuk berpartisipasi. One way to qualify is to win a regional open; another is fulfilling guidelines and qualification rules. Salah satu cara untuk memenuhi syarat adalah memenangkan terbuka daerah; lain memenuhi pedoman dan aturan kualifikasi. The games are divided into the following leagues: Simulation League- 2D and 3D; Small Size Robot League, Middle Size Robot League, Four-Legged Robot League, and the Humanoid League. Permainan ini dibagi ke dalam liga berikut: Simulasi-Liga 2D dan 3D; Kecil Ukuran Liga Robot, Robot Ukuran Tengah Liga, Robot Berkaki Empat-Liga, dan Liga Humanoid.Ini adalah pertama kalinya UM berpartisipasi dalam acara ini. To take part in this competition, the AI & Games Group had to develop a soccer team of six 3D robots, meaning they have a complete resemblance to a physical robot. Untuk mengambil bagian dalam kompetisi ini, AI & Permainan Kelompok harus mengembangkan sebuah tim sepak bola dari enam 3D robot, yang berarti mereka memiliki kemiripan lengkap untuk sebuah robot fisik. The robots are autonomous and have the ability to acquire strategic knowledge and real-time reasoning and can communicate and cooperate with each other during a game. Robot otonom dan memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan strategis dan real-time penalaran dan dapat berkomunikasi dan bekerjasama satu sama lain selama permainan.Mengetahui betapa sulitnya untuk memenangkan acara ini, tim ini pengaturan pemandangan mereka untuk membuatnya melalui putaran pertama. "The idea is to develop our team and to be successful; this means to pass the first round this year," Visser says. "Idenya adalah untuk mengembangkan tim kami dan untuk sukses, ini berarti untuk melewati putaran pertama tahun ini," kata Visser. "If we manage that, it will be a great success, but we would like to evolve into the real robot league, next year." "Jika kita mengelola itu, akan sukses besar, tapi kami ingin berkembang menjadi liga robot nyata, tahun depan."
The other US team participating in the 3D simulation soccer league is from the University of Texas at Austin. Tim AS lain yang berpartisipasi dalam liga sepak bola adalah simulasi 3D dari University of Texas di Austin. In addition to the RoboCupSoccer, the event has three other areas: RoboCupRescue, RoboCup@Home and RoboCupJunior. Selain RoboCupSoccer, acara ini memiliki tiga area lain: RoboCupRescue, RoboCup @ Home dan RoboCupJunior.
Story Sumber:
The above story is reprinted (with editorial adaptations by Science Daily staff) from materials provided by University of Miami . Cerita di atas dicetak ulang (dengan penyesuaian oleh staf editorial Science Daily) dari materi yang disediakan oleh University of Miami .http://www.sciencedaily.com/releases/2010/06/100618141629.htm&prev=/search%3Fq%3Drobotic%2Bnews%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26hs%3D9WU%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26prmd%3Dv&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhgiAjzgKmAcvyoYon0BwejWClkRfA
 

Buku Tamu

ShoutMix chat widget

Most Populer